Tak Terima Disebut "Tuyulnya Kompas Gramedia" Oleh Muhammad Heychael, Ini Reaksi Pemimpin Redaksi Tribunnews.com

BERANINEWS.COM -  Tanggapan atas tulisan Muhammad Heychael di Remotivi, berjudul Bagaimana Tribunnews membantu Terorisme? 1. Dilihat d...



BERANINEWS.COM - Tanggapan atas tulisan Muhammad Heychael di Remotivi, berjudul Bagaimana Tribunnews membantu Terorisme?

1. Dilihat dari judulnya saja, sang penulis sudah melakukan judgment, melakukan tuduhan serius , dan sama sekali tidak bersikap fair.

Menuduh sebuah institusi pers membantu terorisme sama saja dengan sikap kelompok orang yang menuduh polisi melakukan rekayasa terkait aksi terorisme.

Apalagi tuduhan serius itu tidak disertai konfirmasi dan klarifikasi terhadap Tribunnews.com sebagai institusi pers yang mempunyai alamat kantor dan susunan redaksi yang jelas.

Tribunnews.com merupakan lembaga yang telah menjalani verifikasi oleh Dewan Pers. Tampak bahwa penulis tidak mempunyai itikad baik dan tendensius.

2. Dalam tulisan, sang penulis menggunakan istilah yang kasar dan tidak berdasar, yaitu ‘tuyulnya Kompas Gramedia’.

Tuyul dalam pengertian sehari-hari adalah mahkluk gaib yang sengaja diperlihara oleh seseorang untuk mencuri uang.

Penggunaan istilah itu masuk kategori penghinaaan dan atau mencemarkan nama baik, yang mempunyai risiko hukum.

Tribunnews.com sama sekali tidak mencuri apapun, termasuk mencuri klik (uang) seperti dituduhkan oleh penulis.

3. Tidak ada hubungan antara jumlah artikel dengan kualitas pemberitaan seperti tercantum di aline ke-9. Dari kalimat yang muncul di alinea tersebut tampak penulis berspekulasi berdasarkan pemberitaan media tertentu.

Padahal, sebagaimana dilaporkan oleh Tirto.id, “Polisi irit komentar tentang kasus kerusuhan di Mako Brimob.”
Penulis tampak sama sekali tak memahami cara kerja jurnalis di lapangan.

Penggalian fakta di lapangan bukan hanya dari penjelasan polisi saja tetapi dari sumber-sumber dan fenomena lain yang terkait.

Sepanjang punya news value dan terkait dengan peristiwanya, tidak ada salahnya menyajikan kepada pembaca.

Tentu kita semua masih ingat peristiwa terror bom di Jl MH Thamrin, Jakarta, pada Januari 2016, banyak media memberitakan bagaimana seorang pedagang sate, Jamal, yang membawa gerobak tetap melayani para pembeli meski lokasinya (Jl Sabang) tak jauh dari tempat kejadian perkara.

Berita yang kelihatan remeh temeh (remah-remah) itu ternyata banyak mendapat apresiasi karena menunjukkan warga Jakarta tak takut terhadap terror bom.

Lalu apa bedanya dengan berita di Tribunnews.com yang menyebut sejumlah warga asyik menonton siaran televisi mengenai Liga Inggris di depan polisi yang tengah berjaga.

Fenomena itu menunjukkan warga tidak merasa ketakutan meski di dekatnya tengah terjadi aksi terror. Mereka tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara biasa saja.

4. Mengenai ulasan kehidupan Ipda Auzar, korban meninggal di Polda Riu, bukan hanya dilakukan oleh Tribunnews.com tetapi oleh hampir semua media.

Latarbelakang kehidupan korban menjadi penting untuk menujukkan bahwa aksi teror bisa menimpa siapa saja, tak peduli agamanya apa. Lalu apa yang salah?

5. Soal teroris ganteng. Apa yang salah ketika reporter mewawancarai warga sekitar mengenai profil orang yang diduga pelaku teror.

Itu juga merupakan informasi untuk memberitahu masyarakat, pelaku teroris tidak harus menggunakan atribut dan punya stereotip tertentu. Mereka bisa saja hidup di tengah masyarakat biasa dan berpenampilan apa saja. What’s wrong.

Penulis juga berlebihan menyebut berita tentang Ahok di Tribunnews.com. Soal kondisi Ahok di Mako Brimob menjadi konsumsi nyaris semua media mainstream yang luput dari pantauan penulis.

Bahkan polisi pun beberapa kali memberikan keterangan tentang kondisi Ahok di Rutan.

6. Mengenai selebrita menjadi narasumber kasus terorisme. Semua orang, termasuk, selebriti dan public figur, punya hak untuk menyatakan opninya. Siapapun bisa menjadi korban aksi terorisme, termasuk artis dan selebriti.

Teori mana yang menyebutkan mereka tak boleh diwawancarai untuk kasus serius semacam teror bom?

Dalam konteks ini artis Ahmad Dhani, juga punya hak untuk berpendapat. Apalagi Ahmad Dhani pernah menjadi sasaran kelompok teroris yang mengirim bom buku ke rumah pribadinya di kawasan perumahan Pondok Indah, Jakarta, 17 Maret 2011.

Bom itu kemudian diledakkan di sebuah tanah kosong dekat rumah Ahmad Dhani. Bahwa Ahmad Dhani punya pendapat yang berbeda dengan pendapat mainstream mengenai teror bom yang terjadi saat ini, itu soal lain. Jadi apa yang tidak relevan?

7. Kami tidak antikritik namun tulisan Muhammad Heychael sama sekali tidak proporsional, tendensius, tidak didasari tabayyun, dan cenderung menyesatkan.

Heychael menyebut media daring sering terburu-buru dan tidak akurat, namun dia sendiri juga menulis analisa yang terburu-buru dan tidak fair. Apalagi dia menyebut dirinya sebagai peneliti.

Demikaian tanggapan atas tulisan itu. Semoga kita tetap menjaga spirit untuk menjaga NKRI dan keamanan seluruh warga masyarakat dari aksi teror.

Dahlan Dahi (Pemimpin Redaksi Tribunnews.com)


Name

air asia,1,Aqidah,4,Berita,5707,Berita Pilihan,11,Break,5,Figur,3,Figure,89,Fiqih,14,Gallery,6,Harokah,2,HUMOR,2,Internasional,557,Kajian Islam,14,Kalam Salaf,1,KHILAFAH,12,Kisah,2,Kisah Hikmah,1,Kisah Wali,1,Link,1,LINTAS MADZAB,3,Manaqib Ulama,3,MUALAF,5,Muslimah,3,Nasional,11257,News,130,ngeluh,1,OPINI,461,RADIKALISME,21,Science,1,Sejarah,33,syahrini,1,TANYA JAWAB AGAMA,1,Tekno,2,Terbaru,277,TEROSISME,72,Tokoh,2,Toleran,71,Toleransi,2,Video,105,Wawasan Kebangsaan,37,WISDOM,13,
ltr
item
BERANINEWS.COM: Tak Terima Disebut "Tuyulnya Kompas Gramedia" Oleh Muhammad Heychael, Ini Reaksi Pemimpin Redaksi Tribunnews.com
Tak Terima Disebut "Tuyulnya Kompas Gramedia" Oleh Muhammad Heychael, Ini Reaksi Pemimpin Redaksi Tribunnews.com
https://1.bp.blogspot.com/-5TWUO_NbjxM/Ww_VuyBN1xI/AAAAAAAAROE/Ryk33M8S1qcGzoMVEcvQ_Ezu4qUv4c0LwCLcBGAs/s640/tuyul-mencuri-di-rumah-warga-di-magetan_20180118_183913.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-5TWUO_NbjxM/Ww_VuyBN1xI/AAAAAAAAROE/Ryk33M8S1qcGzoMVEcvQ_Ezu4qUv4c0LwCLcBGAs/s72-c/tuyul-mencuri-di-rumah-warga-di-magetan_20180118_183913.jpg
BERANINEWS.COM
https://www.beraninews.com/2018/05/tak-terima-disebut-tuyulnya-kompas.html
https://www.beraninews.com/
https://www.beraninews.com/
https://www.beraninews.com/2018/05/tak-terima-disebut-tuyulnya-kompas.html
true
2989197615663516469
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy